2014/08/03
Cinta dan Benci
Kata orang batas antara cinta benci itu sangat tipis. Dan kini aku yakin kalau aku sudah melewati batas itu.
'Mimpi' yang Indah
Dia memegang tanganku. Dan sepertinya dia juga bersandar padaku. Ya Tuhan, apa ini mimpi? Kalau iya maka jangan bangunkan aku, Tuhan.
Destiny
Ini adalah Novel yang sedang kugarap. Judulnya 'Destiny'. Plot ceritanya sudah selesai. Sekarang tinggal penulisannya saja. Dan proses inilah yang paling sulit. Aku melakukan riset via internet untuk mengumpulkan berbagai informasi. Soalnya aku memakai settingan lokasinya di Jepang.
Hehehe. (otaku amatiran!)
Silakan dibaca. Terbuka untuk saran dan kritik. ^^
Hehehe. (otaku amatiran!)
Silakan dibaca. Terbuka untuk saran dan kritik. ^^
Anak Pemilik Kontrakan
"Ibu sama anak sama-sama cantik. Tapi sama-sama galak. Deketinnya susah. Salah-salah bisa kena omelan sepanjang malam."
"Cara menghadapi orang galak cuma satu. Kamu harus jadi orang yang lebih galak lagi."
Kakak dan Adik
Aku benci selalu dibanding-bandingkan dengan kakakku yang pintar itu. Wajah kami yang mirip semakin membuatku jengkel. Kecelakaan itu membuatku sedikit lega karena kami akhirnya memiliki wajah yang berbeda.
Cowok Arogan Itu
Kemarin dia bersikap sangat arogan padaku. Lalu apa yang membuatnya tiba-tiba berubah jadi ramah begini? Maaf saja, tapi sikapmu yang kemarin membuatku jengkel. Aku tidak akan bersikap ramah sampai aku tahu sebabnya. Dan jangan kira pujianmu itu akan membuatku luluh.
Tentang Ujian, Cowok, dan Bunga
Aku berada di rumah tetanggaku yang juga teman sekolahku. Bermain dengan adik kecilnya yang masih bayi. Adiknya itu selalu tertawa dengan ceria. Aku senang bermain dengannya.
Kemudian datang teman kami yang lain. Kali ini laki-laki. Ada beberapa orang. Aku tidak ingat berapa jumlahnya. Aku hanya ingat aku membantu temanku menyiapkan minuman untuk mereka. Kami kemudian menghabiskan setengah botol sirup rasa melon sambil tertawa bersama. Kami bercerita tentang tes masuk sekolah tinggi yang diadakan besok. Ah, di dalam mimpi pun ada tes ujian masuk ke sekolah yang elit. Tesnya pasti sangat ketat.
***
Hari tes.
Aku sakit. Demam karena flu. Kepalaku rasanya berat sekali. Aku menyiapkan segala keperluan tes untuk hari ini dengan kondisi badan yang lemah. Hujan pun mulai turun. Karena aku sakit, gerakanku jadi lamban. Aku terlambat tiba di tempat tes.
Setibanya di tempat tes, aku bertemu dengan seorang guru yang mengenalku.
“Kenapa terlambat, Nak?” katanya. “Ah, iya. Aku menelepon ke rumahmu katanya kamu sakit, tapi tetap berangkat kesini. Makanya aku menunggu di sini. Teman-teman yang lain sudah masuk. Sekarang sedang ujian.”
“Iya, Pak. Apa saya masih bisa mengikuti tes ini?”
Kemudian dia menuntunku menuju meja FO. Aku bisa melihat tempat pensilku yang ketinggalan di meja FO. Wanita yang berada di balik meja itu sepertinya menggunakan alat tulisku tanpa izin. Guruku hendak memulai pembicaraan, tapi dia mengenalku lebih dulu.
“Ah, kamu yang kemarin kan? Aku pinjam pensilmu sebentar ya.” Ujarnya ceria.
Aku hanya mengangguk. Guruku akan berbicara dengannya. Kemudian aku izin untuk ke toilet.
Di dalam bilik toilet, aku duduk. Aku bisa mendengar suara hujan yang cukup deras. Aku mendesah. Aku bisa membayangkan guruku pasti sedang membangga-banggakan betapa pintarnya diriku dan betapa ruginya mereka jika tak mengizinkan aku masuk.
Ketika mencuci tanganku, aku mendengar suara ribut-ribut di luar toilet. Suara cewek, dan segerombolan cowok. Mereka sepertinya sedang berdiskusi sesuatu. Ada nada suara gembira dari pembicaraan mereka. Ketika aku keluar, aku mendadak dikerumuni. Ah, ini teman-temanku yang kemarin. Rupanya mereka sedang istirahat sebelum melanjutkan tes.
“Aku dengar kamu sakit.”
“Iya, kamu memang sakit ya.”
“Aku senang sekali kamu datang.”
“Aku yakin kamu pasti bisa ikut tes.”
Suara-suara yang mengerubungiku. Aku hanya tersenyum. Memiliki banyak teman yang perhatian seperti ini, membuatku merasa berharga.
Kemudian aku kembali ke meja FO. Aku bisa melihat isi tempat pensilku semakin berantakan di mejanya. Aku kemudian memintanya dengan sopan.
“Boleh kuminta kembali?” kataku.
Tapi, wajahnya yang ramah langsung berubah kesal.
“Maaf, tapi saya butuh alat tulisku. Semuanya.”
“Iya, iya, ini saya bereskan.”
Kemudian dia memasukkan pensil yang baru saja dia raut beserta rautannya, serta penghapus dan pisau cutter. Sampah bekas rautan berwarna hitam dan coklat berserakan di mejanya. Aku menerima tempat pensilku.
“Terima kasih. Boleh saya masuk sekarang?”
Dia mengangguk agak kesal. Kesal karena dia tidak lagi memiliki alat tulis untuk dimainkan. Penjaga FO yang lucu. Dia kembali berkutat dengan komputernya.
Kemudian aku berjalan masuk. Guruku tidak ikut kali ini. Aku masuk sendirian, membuka pintu ruangan dengan takut-takut.
Begitu pintu kelas terbuka, aku bisa melihat ada satu meja. Di sana duduk seorang bapak. Dia pasti pengawas ujian. Beberapa langkah di depan meja itu ada seorang ibu berdiri. Sepertinya dia juga pengawas. Dia sedang mengawasi murid-murid di depannya sambil sesekali memperbaiki letak kacamatanya. Aku melirik siapa saja yang sedang ujian. Aku bisa melihat beberapa temanku juga berada di ruangan ini. Mereka melambai dengan wajah gembira. Aku tersenyum pada mereka.
Bapak yang duduk tadi melihatku. Dia sepertinya mengenaliku, kemudian menyiapkan lembaran jawaban dan soal untukku.
“Ah, akhirnya kamu datang. Ini, Nak. Kamu masih bisa menyelesaikan tes ini kan?”
Semua murid yang sedang ujian, berhenti mengerjakan soal kemudian memandangku.
Aku hanya mengangguk sopan. Sepertinya sakitku ini membuatku tidak banyak bicara.
Ibu pengawas yang tadi berbalik melihat kami. Dia berjalan duduk di kursi di sebelah bapak pengawas, kemudian berkomentar.
“Kamu yakin mau ikut tes ini?” tanyanya dengan tegas.
Saya menatapnya dengan wajah terkejut. Dalam pikiran saya, saya hanya ingin mengikuti ujian ini. Tidak peduli dengan kondisi saya, tidak peduli kata orang-orang. Saya hanya ingin duduk kemudian mengerjakan soal-soal itu.
“Eh, apa maksud kamu. Dia sudah datang jauh-jauh ke sini untuk mengikuti tes ini. Biarkan dia duduk saja. Ayo kita siapkan kursi untuknya.” Bapak pengawas yang tadi membelaku. Rasanya senang sekali.
“Bukan itu maksudku. Tes ini sudah berlangsung beberapa jam yang lalu. Ada banyak sekali soal yang diberikan. Dan sekarang hanya tinggal 3 jam yang tersisa untuk menyelesaikannya.”
“Tapi kamu harus tahu, kalau anak ini…”
“Bu, saya mau ikut tes ini.” Aku memotong ucapan bapak itu.
“Kamu yakin, Nak?” tanya ibu pengawas.
“Soal ini terdiri dari pelajaran IPA. Saya bisa mengerjakan soal teori lebih cepat dari yang ibu pikirkan. Dan walaupun saya lemah dalam soal hitungan, saya yakin bisa menyelesaikannya.” Ucapku dengan percaya diri penuh.
Ibu pengawas itu menatapku di balik kacamatanya dengan tatapan ragu-ragu. Tapi kemudian dia berkata kepada murid yang ada di sana. Para murid yang mendengar kami sejak tadi.
“Anak-anak, atur ulang tempat duduk di barisan ini dan siapkan satu tempat kosong di bagian belakang.”
Ah, iya. Aku tahu. Tempat duduk ini diatur dengan urutan murid laki-laki harus duduk paling depan, baru kemudian murid perempuan duduk di bagian belakang. Barisan yang tadi ditunjuk ibu pengawas mulai menggeser-geser kursinya.
“Ck, bikin repot saja.” Seorang murid laki-laki berdecak jengkel. Padahal bukan barisan tempat duduknya yang dibongkar. Aku meliriknya dengan tajam. Tapi dia kembali mengerjakan soalnya tanpa peduli lagi. Aku cuma mendengus ke arahnya.
Ibu pengawas mengangkat satu kursi dari sudut depan ruangan kemudian menyerahkannya padaku. Aku mengambilnya dengan anggukan terima kasih, tapi kemudian salah seorang temanku muncul mengambil kursi itu kemudian meletakkannya di barisan paling belakang. Aku tersenyum padanya.
“Terima kasih.” Ucapku dengan senyum. Dia hanya melambaikan tangannya.
Ketika ibu itu mengangkat meja, kaki mejanya tiba-tiba patah. Mejanya jadi miring lalu ambruk menimbulkan suara bergema yang cukup keras. Aku bisa merasakan tatapan kekesalan yang makin dalam, dari arah tempat duduk murid laki-laki tadi. Aku tidak mau peduli.
“Aduh maaf, Nak. Sepertinya meja ini sudah cukup tua. Karena tidak ada lagi meja di sini, bagaimana kalau kamu menggunakan kursi yang ada mejanya saja? Sepertinya tadi ada yang memakainya.” Ucap ibu itu merasa bersalah.
Aku menatap satu per satu kursi-kursi para murid. Benar. Ada satu kursi dengan meja. Satu-satunya di ruangan itu. Dan sedang digunakan oleh murid yang jengkel tadi. Hey, apa ini? Kamu memiliki dua meja? Pikirku kesal. Tapi murid itu seperti tidak peduli dengan apa yang terjadi. Hanya asyik mengerjakan soal-soalnya.
Ibu pengawas juga melihat kursi itu. Dia memanggil namanya, menyuruh menukar kursinya dengan kursiku. Aku sudah siap mengangkat kursiku lagi, sebelum dia berujar,
“Saya tidak mau, Bu.” Ucapnya tegas.
Cowok pelit. Batinku. Ibu itu sudah ingin memarahinya, tapi kemudian saya berkata,
“Tidak usah, Bu. Saya akan cari kursi dari kelas lain.” Ucapku.
Ibu itu terlihat salah tingkah, kemudian berkata,
“Oh. Iya. Baik. Silakan, Nak.”
Aku berjalan kembali ke depan kelas. Ketika melewati cowok pelit tadi, aku mendengar bisikan tajam,
“Pengecut.”
Aku berbalik dengan marah. Dia masih tampak tenang mengerjakan soalnya. Temanku yang mendengar ucapannya berdiri dari kursinya hendak membelaku. Tapi aku sudah berjalan menuju meja si pelit tadi. Aku menggebrak mejanya. Dia menatapku dengan tatapan jengkelnya.
Aku menatap langsung ke matanya. Tidak kalah jengkel. Kemudian aku mendekatkan wajahku ke wajahnya sampai hanya berjarak sekitar beberapa senti. Aku berkata dengan sangat tegas.
“Yang pengecut itu aku, atau kau yang tidak mau membantu orang lain?!”
Tepat setelah aku menyelesaikan kalimatku, aku menendang mejanya hingga jatuh ke depan. Menarik paksa kursinya sampai dia terjungkal. Kemudian membawa kursi itu ke tempatku. Seluruh isi kelas menatapku dengan tatapan terkejut. Termasuk kedua pengawas ujian. Kemudian si pelit tadi marah dan berteriak,
“Hey! Apa yang kamu lakukan hah? Kembalikan kursiku!”
Aku meliriknya dengan santai. Kemudian melempar kursi yang tadi akan ditukar ke depan. Kemudian duduk di kursi yang berhasil kurebut dengan paksa. Mengerjakan soal yang tadi kudapat dari bapak pengawas.
Beberapa orang murid membantu meletakkan kursi yang kulempar ke tempat si pelit dan mengembalikan mejanya ke tempat semula. Seorang siswi cantik berambut panjang kemudian berlari untuk membantunya berdiri. Pasti dia pacarnya. Aku tidak mau peduli. Aku hanya ingin menyelesaikan soal-soal ini secepat yang aku bisa.
***
Aku lulus di peringkat kedua.
Kenyataannya ada beberapa soal yang tidak sempat kujawab. Saat itu tubuhku rasanya pegal sekali. Setelah menghabiskan energi melempar-lempar meja dan kursi, aku baru sadar kalau aku sedang sakit. Kepalaku jadi makin berat seiring berjalannya waktu. Akhirnya tertinggallah beberapa soal yang tidak terjawab karena aku kehabisan waktu.
Ah, iya aku hampir lupa. Si pelit itu berada di urutan pertama.
***
Hari pertama sekolah.
Ibu pengawas yang kemarin ternyata seorang guru juga. Dia mengajar di jam pelajaran terakhir. Dia masuk sebentar untuk memberikan tugas karena dia ada rapat. Kemudian memberi peringatan agar jangan keluar kelas sampai bel pulang berbunyi. Tugasnya itu tentang pohon. Aku memotret gambar pohon yang dia tempelkan di papan tulis dengan handphone. Aku pikir aku bisa mengerjakannya nanti di rumah. Batas pengumpulan tugasnya juga masih minggu depan.
Kelas ini rasanya nyaman. Dengan loker-loker di bagian belakang kelas. Aku meletakkan buku-bukuku di sana beserta alat tulis serta spidol dan pensil warna warniku. Bangku dan mejanya berwarna abu-abu dan putih. Pintunya ada dua. Satu tempat kami keluar masuk dari koridor. Satunya lagi mengarah ke taman di samping kelas. Taman itu langsung terhubung ke sebuah telaga.
Kelas mulai terasa membosankan. Anak-anak yang lain bercanda dan berlarian dalam kelas. Si pelit sepertinya juga suka menyendiri. Tempat duduknya di dekat jendela dekat koridor.Dia sedang membaca. Pacarnya mengikutinya membaca buku. Sesekali cewek itu meliriknya dengan tatapan malu-malu dan bangga. Yah, sepertinya si pelit memang lumayan populer. Wajar saja pacarnya merasa bangga.
Teman-temanku dari sekolah yang dulu tahu kalau aku suka menyendiri. Jadi mereka hanya bermain sendiri sambil sesekali melambai padaku. Aku tersenyum melihat mereka. Aku memilih duduk paling belakang agar bisa menggambar dengan tenang di buku kecilku. Aku punya buku kecil berwarna hijau. Sebenarnya itu buku catatan, tapi aku juga sekalian menggunakannya untuk menggambar. Aku suka menggambar bunga. Aku suka menggambar bunga sejak aku memainkan game online tentang menanam berbagai macam bunga. Di game itu terdapat puluhan jenis bunga. Semuanya cantik. Dan sangat menyenangkan rasanya bisa menggambarnya.
Jam pelajaran terakhir ini aku sudah berhasil menggambar 4 macam bunga. Aku menggambar sketsanya dengan pulpen. Hari ini aku menggunakan spidol untuk mewarnainya. Aku suka warna spidol yang cerah. Dan aku punya spidol dengan 48 warna yang berbeda.
Bunga pertama yang kugambar berwarna pink pucat. Bunga kedua berwarna putih. Bunga ketiga berwarna campuran ungu muda dan ungu tua. Bunga keempat berwarna merah. Ketika hendak menyelesaikan gambar daun untuk bunga keempat, aku menyempatkan untuk melirik keadaan kelas. Ruangan terasa sejuk karena hujan rintik-rintik yang turun tadi. Meskipun hujannya sudah berhenti, masih tertinggal udara yang terasa sejuk. Aku kemudian bertemu pandang dengan si pelit. Dia juga sedang menatapku tanpa ekspresi apa-apa. Melihatnya saja membuatku kesal.
Aku lalu bangkit dari tempat dudukku keluar kelas. Membawa pulpen dan beberapa spidol. Mungkin aku akan keluar ke taman samping. Aku meliriknya lagi, tapi kursinya sudah kosong. Mungkin dia ke toilet. Aku mengangkat bahu lalu keluar dan menutup pintu. Taman itu bukan taman bunga warna warni. Yang ada hanya rumput-rumput halus yang tumbuh sangat lebat menutupi seluruh permukaan tanah. Di antaranya terdapat beberapa bunga rumput yang tinggi berwarna putih kehijauan.
Aku melihat sisa rintik hujan di rerumputan. Rasanya mirip embun pagi. Padahal hari sudah sore. Aku melangkah ke tengah padang rumput, kemudian menjatuhkan diri berbaring di atas rumput basah itu. Aku tidak peduli seragamku yang ikut basah. Di genggamanku ada buku kecilku beserta pulpen dan spidol. Aku menutup mata. Menarik napas dalam-dalam. Aroma rumput hijau dan tanah basah. Rasanya damai.
Ketika membuka mata, aku bisa melihat langit yang berwarna biru kelabu. Sepertinya akan hujan lagi. Aku merasakan rintik kecil. Jatuh membasahiku dengan menggelitik saking kecilnya rintikan itu. Aku mengulurkan tangan menuju langit mencoba meraih awan yang menjatuhkan butiran kecil air. Aku tersenyum.
Kemudian aku bisa merasakan langkah kaki seseorang mendekat. Aku mendongak ke atas dan menemukan sesosok murid laki-laki. Sepertinya dia ikut melihat ke langit kemudian menatap ke bawah melihatku. Aku terkejut. Itu si pelit!
“Sedang apa? Memangnya ada apa di langit?” tanyanya dengan ekspresi datar. Sekilas kupikir dia akan mengucapkan kata-kata yang tajam lagi. Aku tertegun melihatnya cukup ramah.
Kemudian aku tersadar. Aku menarik kembali tanganku, lalu segera bangkit duduk. Aku kemudian melanjutkan menggambar daun bunga tanpa mempedulikannya. Dia berjongkok di sebelahku. Melirik bukuku.
“Gambarmu bagus. Kau suka menggambar?” tanyanya.
Aku hanya meliriknya sebentar. Kemudian lanjut menggambar.
“Ternyata kamu anak yang pintar. Melihat hasil ujianmu kemarin, yang bisa mendapat peringkat dua walaupun mengerjakannya dengan waktu terbatas.” Ujarnya lagi.
Aku tetap mengabaikannya.
“Kukira aku akan minta maaf.” Ucapnya yang membuatku berhenti menggerakkan pulpen.
“Kukira kau tidak tahu minta maaf.” Ucapku. Dia lalu melirikku sambil tersenyum.
Sepertinya dia senang aku akhirnya berbicara. Kemudian dia duduk di rumput dengan desahan lega. Mencari posisi duduk yang membuatnya nyaman. Dia lanjut berbicara sambil menatap telaga.
“Saat itu aku sedang ada masalah. Jadi suasana hatiku sedang buruk.” Katanya.
Ada apa ini? Apa sekarang dia akan curhat padaku? Ah, aku menggambar saja. Batinku.
“Tapi, kamu kuat juga. bisa melempar-lempar seperti itu. Hehehe.” Dia tertawa kecil.
Aku mengerutkan dahi. Aku merasa tersinggung. Dari nada bicaranya, sepertinya dia hendak mengatakan kalau aku cewek tomboy yang bisa dijadikan bodyguard. Sepertinya dia memang pantas diabaikan saja.
Bel pulang berbunyi.
Aku segera membereskan spidol-spidolku. Meninggalkannya yang masih duduk saja. Aku sempat meliriknya dari jendela. Mungkin dia belum mau pulang. Aku mengangkat bahu lalu membereskan barang-barangku di meja. Sebelum pulang, aku sempat meliriknya lagi. Dia lalu berbaring di tempat tadi aku berbaring. Mengulurkan tangannya ke langit persis seperti yang aku lakukan. Kemudian dia tertawa.
Aku mendengus. Dia mengejekku. Pikirku.
***
Minggu kedua sekolah.
Saat istirahat siang, aku keluar lagi ke taman. Sepertinya anak-anak tidak pernah ada yang keluar ke sini. Aku sudah mengamatinya selama seminggu. Bagus. Aku jadi punya tempat menggambar yang tenang. Aku sudah menyiapkan bekal roti dan bagel dari rumah. Aku memang tidak berniat ke kantin hari ini. Mungkin seterusnya aku akan membawa bekal dan makan siang di sini saja.
Aku makan sambil menatap telaga. Hari ini aku sudah menggambar dua bunga. Bunga berwarna kuning dan jingga. Selanjutnya aku akan menggambar apa, ya.
Aku kemudian mengeluarkan handphone-ku. Mencari gambar pohon yang ditugaskan minggu lalu. Mungkin sekarang aku akan menggambar pohon itu. Pohon yang cantik menurutku. Daunnya berwarna hijau kecoklatan. Sepertinya gambar itu diambil antara musim panas dan musim gugur. Di gambar itu hanya terlihat satu pohon dengan latar belakang padang rumput yang sangat luas. Aku mulai mengeluarkan pulpen dan membuat sketsa pohon.
“Itu pohon yang minggu lalu, kan? Yang disuruh buat esai?” terdengar suara yang familiar. Si pelit. Entah dia datang dari mana.
Aku mengangguk saja.
Dia kemudian ikut duduk di sebelahku.
Sketsaku sudah selesai. Aku masih punya satu bagel. Aku memakannya dengan santai.
“Kau tidak menawariku makan?” ucapnya.
Aku membalasnya dengan tatapan bertanya. Kenapa juga kau harus ditawari makan?
“Hahaha. Aku bercanda. Bukankah menawari itu sopan santun yang biasa dilakukan ketika orang punya makanan, kemudian ada teman di sampingnya?”
Abaikan saja. Makan saja dengan tenang. Lagipula kau tidak kuanggap sebagai teman. Terdengar dia mendesah di sebelahku.
“Sebenarnya aku belum makan siang.” Ucapnya tiba-tiba.
Sekarang dia bermaksud membuatku merasa bersalah. Tapi aku memasukkan potongan terakhir bagel ke dalam mulut dengan mantap. Aku tidak peduli denganmu. Ujarku dalam hati.
Aku kemudian mulai mewarnai gambar pohonku.
“Aku kehilangan dompetku kemarin. Sepertinya jatuh di suatu tempat. Jadi aku tidak punya uang untuk membeli makan.”
Jadi, sekarang apa? Mau minta tolong aku mencarikan dompetmu? Atau meminjamkanmu uang? Tidak akan. Aku jengkel dalam hati.
“Hey. Bisa tidak kau menanggapiku? Kau benar-benar tidak sopan. Dari tadi aku bicara sendiri.” Dia bisa jengkel juga. Hohoho. Aku tertawa dalam hati.
“Yah, kau bisa diam saja. Itu hakmu.”
Tentu saja! Batinku.
“Gambar-gambarmu bagus. Boleh lihat?” tanyanya sambil mengulurkan tangan meminta buku kecilku. Aku menatapnya dengan tatapan heran. Baru kali ini ada yang ingin melihat hasil gambarku. Dia balas menatapku. Hey, matanya bagus. Coklat tua yang elegan. Aku kemudian memberikan bukuku.
Dia membuka-bukanya. Aku memperhatikan reaksinya. Kemudian tampak keningnya mulai berkerut.
“Ini buku catatan, atau buku gambar?” tanyanya.
“Buku catatan. Tapi, tidak ada peraturan yang melarangku menggambar di situ, kan.” Jawabku ketus.
Dia tersenyum.
“Gambarmu hanya bunga-bunga saja?” tanyanya sambil menatapku. Dia sudah berhenti membuka bukuku.
Aku mengangguk.
Dia tersenyum saja. Kemudian lanjut membuka-bukanya. Gambarnya sudah habis, tapi dia tetap membuka lembaran kosong itu.
Aku heran melihatnya. Apa dia bodoh? Melihat-lihat lembar kosong seperti itu. Kemudian aku sadar. Ada beberapa catatan diariku di lembar belakang buku itu. Aku langsung panik.
“Kembalikan bukuku!”
Aku hendak merebutnya kembali, tapi dia menahannya. Kami saling tarik-menarik buku. Pandangan kami bertatapan saling menantang.
“Kenapa? Apa ada sebuah rahasia di dalam buku ini? Rahasia yang tidak boleh kulihat?” aku terpaku.
Saat aku lengah, dia menarik buku itu. Hendak disembunyikan di balik punggungnya. Aku menangkap bukuku lagi. Tapi dia menarik tangannya lebih kuat. Aku sampai ikut tertarik oleh buku itu. Kami sekarang berada dalam jarak yang sangat dekat.
Aku merasakan pandangan menusuk darinya. Mataku yang tadinya menatap buku, berbalik menatapnya dengan pandangan tajam. Tapi tatapannya malah berubah terkejut. Aku mengerutkan dahi karena heran. Apa yang dipikirkannya? Tanyaku dalam hati.
Kemudian pandangannya berubah melembut. Matanya yang berwarna coklat seperti menarikku ke dalamnya. Tangan kami sama-sama masih memegang buku. Aku cepat-cepat menyadarkan diriku. Aku berhasil mendapatkan bukuku kembali dalam satu sentakan. Dia tampak kaget. Lalu segera sadar apa yang terjadi.
Aku membereskan tempat bekalku dan spidol-spidolku. Dia sepertinya masih syok sendiri. Aku hendak kembali ke kelas. Tapi, aku berbalik lagi padanya. Mengacungkan bukuku di depannya.
“Di dalam sini? Ya, ada.” Ucapku tegas sambil berbalik ke kelas dengan berlari.
“Hei, tunggu!”
Dia mengejarku. Tapi aku tidak peduli lagi. Semenit yang lalu rasanya aku bisa berteman dengannya. Lalu semenit kemudian aku tidak mau berurusan dengannya lagi.
Di pintu masuk kelas aku bertemu dengan gadis cantik berambut panjang. Itu pacarnya! Si pelit berhasil mengejarku, lalu menangkap lenganku.
“Aku bilang tunggu, kamu kenapa sih?”
Aduh. Aku terjebak dalam situasi yang tidak nyaman. Begitu dia melihat pacarnya, dia langsung sadar dan melepaskan genggamannya. Aku langsung berlalu. Masuk ke dalam kelas dan duduk di kursiku.
Cowok pelit itu hendak mengejarku lagi. Tapi pacarnya menahannya. Mendorongnya keluar kelas dan menutup pintu. Yah, mungkin akan terjadi sedikit pertengkaran di sana. Aku tidak mau peduli.
***
Destiny: Part 1
1
(Seperti) Cinta Pertama
Seorang gadis kecil
berlari menelusuri tepi sungai. Usianya kira-kira 10 tahun. Dia berhenti di
balik pohon. Mengintip sebentar ke arah anak lelaki yang sedang menendang-nendang
kerikil. Gadis itu memegang dadanya mencoba mengatur nafas. Mengangguk mantap
kemudian berjalan ke arah anak itu.
Anak lelaki itu
mendengar suara gemerisik rumput, lalu berbalik dan melihat seorang gadis yang
memakai gaun terusan putih.
“Kamu telat. Aku
khawatir kamu kenapa-napa.“
“Aku tidak apa-apa
kok. Kamu mau kasih liat apa?”
“Ah, iya. Sini. Aku
menemukannya kemarin sore. Aku mau kasih liat ini sama kamu, aku pikir kamu
pasti suka.” Anak lelaki itu menarik tangan si gadis ke satu sisi sungai yang
agak dangkal.
“Lihat.”
***
Miyamoto Erika. 15 Tahun. Kelas 1 SMA Ayakashi.
Baru saja selesai menghadiri upacara penerimaan siswa baru tadi pagi. Sekarang dia
sedang bermalas-malasan di kelas. Jam pelajaran kedua ini sedang kosong. Tadi pak
guru menyuruh belajar sendiri, tapi sepertinya tidak ada yang berniat belajar. Mungkin
karena sebentar lagi jam istirahat.
“Miyamoto-san kenapa? Dia sakit?”
“Oh, tadi dia bilang dia capek. Kayaknya lagi
tidur tuh. Biarin aja, sebentar lagi juga mau istirahat.”
Erika sedang membaringkan wajahnya di meja.
Pipinya menempel di buku tulisnya yang beraroma kertas baru. Sepertinya dia
tidak tidur karena setelah beberapa menit, matanya masih terbuka.
Ini adalah posisi yang
paling aman dari gangguan. Aku malas pulang naik bus. Badanku pegal semua
rasanya. Apa ini pengaruh cuaca? Entahlah. Erika kemudian sembunyi-sembunyi mengirim
e-mail kepada papanya agar menjemputnya sepulang sekolah. Yup terkirim. Erika kemudian menghela napas.
Posisi tempat duduknya paling ujung dekat
pintu. Siapapun yang berada di kelas itu tidak dapat melihat wajahnya. Jadi
Erika bebas saja membuka matanya. Sekarang ini pandangannya menatap keluar
kelas memperhatikan lorong koridor yang sunyi. Tapi kemudian muncul dua orang
cowok. Satu orang langsung masuk ke dalam kelas. Yang satunya menunggu di
pintu. Erika juga melihatnya. Lama dia memandang cowok yang berdiri di pintu
itu.
Begitu sosoknya menghilang dari pandangan, Erika
langsung tersadar. Matanya sampai berkedip-kedip, karena terlalu lama menatap
cowok tadi. Terdengar celotehan teman sekelas yang mengatakan kalau cowok
tercakep di sekolah ini baru saja muncul di kelasnya.
Tiba-tiba rasanya
dunia bergerak melambat. Aku melihatnya. Sosoknya dengan rambut cokelat terang
dan matanya yang hitam jernih.
Aku melihatnya. Dia
melihatku. Dia tersenyum. Lalu pergi.
***
Kelas 3-2 SMA Ayakashi. Terdengar bel istirahat berdering.
Yusuke sedang membereskan bukunya ketika seseorang memanggilnya.
“Yusuke,
temani aku ke kelas 1-2 ya.” baru saja dia berbahagia suka cita mendengar bel
istirahat, tiba-tiba terdengar suara ‘bel’ pertanda buruk. Yah, bukan pertanda
buruk yang sebenarnya sih. Itu cuma suara Ryu. Cowok yang dari lahir (mungkin)
sudah mengikuti Yusuke kemana saja.
“Ngapain kita ke kelas 1?”
“Bu Guru Yoshina minta tolong mengantarkan
surat ini untuk keponakannya.”
“Okelah. Aku juga sedang tidak ada kerjaan.”
Dan, disinilah mereka di depan kelas 1-2. Ryu
sudah bergerak masuk mencari keponakan Bu Guru Yoshina. Tidak lupa menebar
pesona seperti biasanya. Yah, sepertinya dia tidak ingin reputasinya sebagai
cowok tercakep di sekolah ini tercemar. Hehe.
Yusuke tidak ikut masuk. Dia lebih memilih
melihat saja dari pintu. Katanya dia malas berurusan dengan anak kelas 1 yang
sekilas bakal terlihat seperti anak SMP dan tidak ada bagus-bagusnya. Yusuke
bersandar di ambang pintu sambil memperhatikan sekeliling kelas.
Anak-anak kelas 1 itu
terlihat seperti remaja yang baru memasuki masa pubertasnya. Sepertinya Yusuke menyadari
posisinya sebagai senior sekolah. Hah,
aku jadi merasa seperti ayah yang bangga melihat anak-anaknya tumbuh dewasa.
Kemudian Yusuke tertegun karena melihat
pemandangan yang unik.
Anak itu posisinya
tampak sedang tidur, tapi matanya terbuka lebar. Lucu juga. Dari belakang,
teman-temannya pasti mengira dia sedang tidur. Yusuke tertawa dalam hati. Dia memperhatikan
kalau gadis itu sedang memegang hp dengan strap
berbentuk buah ceri. Mungkin dia sedang
menunggu telpon dari seseorang. Pikir Yusuke.
Ah, dia melihat ke
sini. Apa dia sedang melamun? Matanya tidak berkedip sama sekali. Tunggu dulu.
Sepertinya aku kenal. Wajahnya tidak asing.
“Yo,
Yusuke. Urusannya sudah selesai. Ayo ke kantin.” Ryu tiba-tiba muncul.
“Ah, bikin kaget aja. Ayo! Aku juga lapar
banget nih.”
***
Ada e-mail. Papa Erika bilang akan terlambat
sekitar 30 menit karena ada urusan sebentar. Erika yang sedang berjalan menuju
gerbang langsung berhenti.
“Eri-chan, kenapa?” gadis manis yang bertanya
ini namanya Noriko. Shino Noriko. Dia teman pertama yang dikenal Erika sewaktu
upacara penerimaan siswa baru tadi.
“Papaku bakal telat dikit. Aku harus menunggu.”
“Oh. Aku temani ya.” Noriko tersenyum manis
sekali.
“Eh, gak apa-apa nih?”
“Iya gak apa-apa.”
“Makasih ya.”
Kemudian
dua gadis itu menunggu di dekat gerbang sekolah. Erika sedang bersandar di
gerbang sekolah menunggu jemputan, ketika dia melihat cowok itu lagi. Erika
merasakan waktu di sekitarnya tidak lagi melambat. Tapi matanya masih tidak
bisa melepaskan pandangan dari cowok itu.
“Hei, hei. Eri-Chan.”
“Eh, iya Noriko-chan? Ada apa?” Kenapa aku kaget begini? Apa tadi aku
melamun?
“Kau suka sama cowok itu? Kok diliatin terus?”
“Gak kok.” Erika lalu tersenyum salah tingkah.
“Hahaha. Gak usah membantah. Satu sekolah juga
tahu kalau dia cowok paling cakep di sekolah ini. Aku juga suka lho.” Apa? Oh jadi dia cukup popular juga, ya. Kenapa
tadi aku tidak bilang iya saja. Cowok itu memang cakep.
“Kalau aku sudah suka dari SMP. Yah, bukan suka
beneran sih. Bisa dibilang aku ini penggemarnya.”
“Oh ya? Namanya siapa?”
“Oh, iya Eri-chan SMP nya beda ya. Pantas saja
tidak tahu. Namanya Ryu.” Ayakashi merupakan sekolah gabungan SMP dan SMA.
Noriko sudah sekolah disini sejak SMP.
“Haaah, Ryu-senpai. Namanya saja sudah keren.
Penampilannya juga. Lihat saja hidungnya yang mancung, rambutnya yang hitam,
matanya yang selalu pakai lensa kontak warna-warni, hari ini warnanya hijau
zamrud. Warna kesukaanku. Aku tahu soalnya tadi dia mampir ke kelas kita lho.
Eri-chan tadi tidur sih.”
Eh, tunggu dulu. Tadi
Noriko-chan bilang rambutnya hitam? Bukannya rambutnya warna cokelat? Cepat-cepat Erika melirik ke arah
cowok tadi. Ah, benar saja. Di samping si cowok berambut cokelat ini, ada satu
cowok lagi yang ciri-cirinya jelas menunjukkan kalau itulah si Ryu-senpai yang
dibicarakan Noriko. Berarti tadi yang
mampir di kelas ada dua orang? Aku kok gak ingat ya.
“Eh, Noriko-chan. Yang di sampingnya itu
siapa?”
“Mana? Yang pirang itu? Ah, itu Yusuke-senpai.
Mereka memang selalu sama-sama. Soalnya mereka teman dari kecil. Rumahnya juga
bertetangga.”
_piip piip_
Terdengar klakson mobil.
“Erika!” Terlihat juga Papa Erika yang
melambaikan tangan dari balik kaca jendela mobil.
“Ah, Noriko-chan aku duluan ya. Daah.”
“Daah, Eri-chan.”
Erika kemudian masuk ke mobil. Papanya terlihat
sedang menelepon seseorang.
Yusuke.
Erika mengulangi namanya dalam hati. Kemudian dia
tersenyum.
***
Destiny: Sinopsis
Hilang ingatan/amnesia dapat terjadi bukan saja
karena adanya benturan di kepala. Kadang, manusia secara spontan dapat melupakan
kejadian yang tidak ingin diingatnya secara otomatis. Hal itu disebut sebagai
bentuk perlindungan diri seseorang terhadap kondisi emosionalnya. Dissosiative Amnesia atau Amnesia
Disosiatif.
Erika mengalami amnesia jenis ini 5 tahun yang
lalu. Papanya kasihan melihat keadaan putrinya yang tiba-tiba melupakan semua kenangannya. Mutasi kerja kemudian
dimanfaatkan sang Papa untuk membantu putrinya memulai kenangan baru. Sejak
saat itu ia melanjutkan hidupnya yang baru, di kota yang baru.
Di sana dia jatuh cinta dengan seorang lelaki bernama
Yusuke yang disebutnya sebagai cinta pertamanya. Yusuke merasa pernah mengenal Erika sewaktu kecil.
Erika juga bertemu Ryu. Lelaki yang mengaku
adalah teman masa kecil Erika saat sebelum hilang ingatan.
Ada pula Soichirou, lelaki yang membuat Erika
mengingat sesuatu tentang kenangan masa kecilnya.
Erika secara otomatis ‘melindungi’ dirinya
dengan melupakan kejadian yang menyakitkan baginya. Namun, bagaimana jika ada
kenangan lain yang ikut terlupakan? Kenangan yang sebenarnya bisa dibilang
indah.
Subscribe to:
Comments (Atom)