2014/08/03

Destiny: Part 1

1
(Seperti) Cinta Pertama

Seorang gadis kecil berlari menelusuri tepi sungai. Usianya kira-kira 10 tahun. Dia berhenti di balik pohon. Mengintip sebentar ke arah anak lelaki yang sedang menendang-nendang kerikil. Gadis itu memegang dadanya mencoba mengatur nafas. Mengangguk mantap kemudian berjalan ke arah anak itu.
Anak lelaki itu mendengar suara gemerisik rumput, lalu berbalik dan melihat seorang gadis yang memakai gaun terusan putih.
“Kamu telat. Aku khawatir kamu kenapa-napa.“
“Aku tidak apa-apa kok. Kamu mau kasih liat apa?”
“Ah, iya. Sini. Aku menemukannya kemarin sore. Aku mau kasih liat ini sama kamu, aku pikir kamu pasti suka.” Anak lelaki itu menarik tangan si gadis ke satu sisi sungai yang agak dangkal.
“Lihat.”
***

Miyamoto Erika. 15 Tahun. Kelas 1 SMA Ayakashi. Baru saja selesai menghadiri upacara penerimaan siswa baru tadi pagi. Sekarang dia sedang bermalas-malasan di kelas. Jam pelajaran kedua ini sedang kosong. Tadi pak guru menyuruh belajar sendiri, tapi sepertinya tidak ada yang berniat belajar. Mungkin karena sebentar lagi jam istirahat.
 “Miyamoto-san kenapa? Dia sakit?”
“Oh, tadi dia bilang dia capek. Kayaknya lagi tidur tuh. Biarin aja, sebentar lagi juga mau istirahat.”
Erika sedang membaringkan wajahnya di meja. Pipinya menempel di buku tulisnya yang beraroma kertas baru. Sepertinya dia tidak tidur karena setelah beberapa menit, matanya masih terbuka.
Ini adalah posisi yang paling aman dari gangguan. Aku malas pulang naik bus. Badanku pegal semua rasanya. Apa ini pengaruh cuaca? Entahlah. Erika kemudian sembunyi-sembunyi mengirim e-mail kepada papanya agar menjemputnya sepulang sekolah. Yup terkirim. Erika kemudian menghela napas. 
Posisi tempat duduknya paling ujung dekat pintu. Siapapun yang berada di kelas itu tidak dapat melihat wajahnya. Jadi Erika bebas saja membuka matanya. Sekarang ini pandangannya menatap keluar kelas memperhatikan lorong koridor yang sunyi. Tapi kemudian muncul dua orang cowok. Satu orang langsung masuk ke dalam kelas. Yang satunya menunggu di pintu. Erika juga melihatnya. Lama dia memandang cowok yang berdiri di pintu itu.
Begitu sosoknya menghilang dari pandangan, Erika langsung tersadar. Matanya sampai berkedip-kedip, karena terlalu lama menatap cowok tadi. Terdengar celotehan teman sekelas yang mengatakan kalau cowok tercakep di sekolah ini baru saja muncul di kelasnya.

Tiba-tiba rasanya dunia bergerak melambat. Aku melihatnya. Sosoknya dengan rambut cokelat terang dan matanya yang hitam jernih.
Aku melihatnya. Dia melihatku. Dia tersenyum. Lalu pergi.
***

Kelas 3-2 SMA Ayakashi. Terdengar bel istirahat berdering. Yusuke sedang membereskan bukunya ketika seseorang memanggilnya.
 “Yusuke, temani aku ke kelas 1-2 ya.” baru saja dia berbahagia suka cita mendengar bel istirahat, tiba-tiba terdengar suara ‘bel’ pertanda buruk. Yah, bukan pertanda buruk yang sebenarnya sih. Itu cuma suara Ryu. Cowok yang dari lahir (mungkin) sudah mengikuti Yusuke kemana saja.
“Ngapain kita ke kelas 1?”
“Bu Guru Yoshina minta tolong mengantarkan surat ini untuk keponakannya.”
“Okelah. Aku juga sedang tidak ada kerjaan.”
Dan, disinilah mereka di depan kelas 1-2. Ryu sudah bergerak masuk mencari keponakan Bu Guru Yoshina. Tidak lupa menebar pesona seperti biasanya. Yah, sepertinya dia tidak ingin reputasinya sebagai cowok tercakep di sekolah ini tercemar. Hehe.
Yusuke tidak ikut masuk. Dia lebih memilih melihat saja dari pintu. Katanya dia malas berurusan dengan anak kelas 1 yang sekilas bakal terlihat seperti anak SMP dan tidak ada bagus-bagusnya. Yusuke bersandar di ambang pintu sambil memperhatikan sekeliling kelas.
Anak-anak kelas 1 itu terlihat seperti remaja yang baru memasuki masa pubertasnya. Sepertinya Yusuke menyadari posisinya sebagai senior sekolah. Hah, aku jadi merasa seperti ayah yang bangga melihat anak-anaknya tumbuh dewasa.
Kemudian Yusuke tertegun karena melihat pemandangan yang unik.
Anak itu posisinya tampak sedang tidur, tapi matanya terbuka lebar. Lucu juga. Dari belakang, teman-temannya pasti mengira dia sedang tidur. Yusuke tertawa dalam hati. Dia memperhatikan kalau gadis itu sedang memegang hp dengan strap berbentuk buah ceri. Mungkin dia sedang menunggu telpon dari seseorang. Pikir Yusuke.
Ah, dia melihat ke sini. Apa dia sedang melamun? Matanya tidak berkedip sama sekali. Tunggu dulu. Sepertinya aku kenal. Wajahnya tidak asing.
 “Yo, Yusuke. Urusannya sudah selesai. Ayo ke kantin.” Ryu tiba-tiba muncul.
“Ah, bikin kaget aja. Ayo! Aku juga lapar banget nih.”
***

Ada e-mail. Papa Erika bilang akan terlambat sekitar 30 menit karena ada urusan sebentar. Erika yang sedang berjalan menuju gerbang langsung berhenti.
“Eri-chan, kenapa?” gadis manis yang bertanya ini namanya Noriko. Shino Noriko. Dia teman pertama yang dikenal Erika sewaktu upacara penerimaan siswa baru tadi.
“Papaku bakal telat dikit. Aku harus menunggu.”
“Oh. Aku temani ya.” Noriko tersenyum manis sekali.
“Eh, gak apa-apa nih?”
“Iya gak apa-apa.”
“Makasih ya.”
 Kemudian dua gadis itu menunggu di dekat gerbang sekolah. Erika sedang bersandar di gerbang sekolah menunggu jemputan, ketika dia melihat cowok itu lagi. Erika merasakan waktu di sekitarnya tidak lagi melambat. Tapi matanya masih tidak bisa melepaskan pandangan dari cowok itu.
“Hei, hei. Eri-Chan.”
“Eh, iya Noriko-chan? Ada apa?” Kenapa aku kaget begini? Apa tadi aku melamun?
“Kau suka sama cowok itu? Kok diliatin terus?”
“Gak kok.” Erika lalu tersenyum salah tingkah.
“Hahaha. Gak usah membantah. Satu sekolah juga tahu kalau dia cowok paling cakep di sekolah ini. Aku juga suka lho.” Apa? Oh jadi dia cukup popular juga, ya. Kenapa tadi aku tidak bilang iya saja. Cowok itu memang cakep.
“Kalau aku sudah suka dari SMP. Yah, bukan suka beneran sih. Bisa dibilang aku ini penggemarnya.”
“Oh ya? Namanya siapa?”
“Oh, iya Eri-chan SMP nya beda ya. Pantas saja tidak tahu. Namanya Ryu.” Ayakashi merupakan sekolah gabungan SMP dan SMA. Noriko sudah sekolah disini sejak SMP.
“Haaah, Ryu-senpai. Namanya saja sudah keren. Penampilannya juga. Lihat saja hidungnya yang mancung, rambutnya yang hitam, matanya yang selalu pakai lensa kontak warna-warni, hari ini warnanya hijau zamrud. Warna kesukaanku. Aku tahu soalnya tadi dia mampir ke kelas kita lho. Eri-chan tadi tidur sih.”
Eh, tunggu dulu. Tadi Noriko-chan bilang rambutnya hitam? Bukannya rambutnya warna cokelat? Cepat-cepat Erika melirik ke arah cowok tadi. Ah, benar saja. Di samping si cowok berambut cokelat ini, ada satu cowok lagi yang ciri-cirinya jelas menunjukkan kalau itulah si Ryu-senpai yang dibicarakan Noriko. Berarti tadi yang mampir di kelas ada dua orang? Aku kok gak ingat ya.
“Eh, Noriko-chan. Yang di sampingnya itu siapa?”
“Mana? Yang pirang itu? Ah, itu Yusuke-senpai. Mereka memang selalu sama-sama. Soalnya mereka teman dari kecil. Rumahnya juga bertetangga.”
_piip piip_
Terdengar klakson mobil.
“Erika!” Terlihat juga Papa Erika yang melambaikan tangan dari balik kaca jendela mobil.
“Ah, Noriko-chan aku duluan ya. Daah.”
“Daah, Eri-chan.”
Erika kemudian masuk ke mobil. Papanya terlihat sedang menelepon seseorang.
Yusuke.
Erika mengulangi namanya dalam hati. Kemudian dia tersenyum.

***

No comments:

Post a Comment