1
(Seperti) Cinta Pertama
Seorang gadis kecil
berlari menelusuri tepi sungai. Usianya kira-kira 10 tahun. Dia berhenti di
balik pohon. Mengintip sebentar ke arah anak lelaki yang sedang menendang-nendang
kerikil. Gadis itu memegang dadanya mencoba mengatur nafas. Mengangguk mantap
kemudian berjalan ke arah anak itu.
Anak lelaki itu
mendengar suara gemerisik rumput, lalu berbalik dan melihat seorang gadis yang
memakai gaun terusan putih.
“Kamu telat. Aku
khawatir kamu kenapa-napa.“
“Aku tidak apa-apa
kok. Kamu mau kasih liat apa?”
“Ah, iya. Sini. Aku
menemukannya kemarin sore. Aku mau kasih liat ini sama kamu, aku pikir kamu
pasti suka.” Anak lelaki itu menarik tangan si gadis ke satu sisi sungai yang
agak dangkal.
“Lihat.”
***
Miyamoto Erika. 15 Tahun. Kelas 1 SMA Ayakashi.
Baru saja selesai menghadiri upacara penerimaan siswa baru tadi pagi. Sekarang dia
sedang bermalas-malasan di kelas. Jam pelajaran kedua ini sedang kosong. Tadi pak
guru menyuruh belajar sendiri, tapi sepertinya tidak ada yang berniat belajar. Mungkin
karena sebentar lagi jam istirahat.
“Miyamoto-san kenapa? Dia sakit?”
“Oh, tadi dia bilang dia capek. Kayaknya lagi
tidur tuh. Biarin aja, sebentar lagi juga mau istirahat.”
Erika sedang membaringkan wajahnya di meja.
Pipinya menempel di buku tulisnya yang beraroma kertas baru. Sepertinya dia
tidak tidur karena setelah beberapa menit, matanya masih terbuka.
Ini adalah posisi yang
paling aman dari gangguan. Aku malas pulang naik bus. Badanku pegal semua
rasanya. Apa ini pengaruh cuaca? Entahlah. Erika kemudian sembunyi-sembunyi mengirim
e-mail kepada papanya agar menjemputnya sepulang sekolah. Yup terkirim. Erika kemudian menghela napas.
Posisi tempat duduknya paling ujung dekat
pintu. Siapapun yang berada di kelas itu tidak dapat melihat wajahnya. Jadi
Erika bebas saja membuka matanya. Sekarang ini pandangannya menatap keluar
kelas memperhatikan lorong koridor yang sunyi. Tapi kemudian muncul dua orang
cowok. Satu orang langsung masuk ke dalam kelas. Yang satunya menunggu di
pintu. Erika juga melihatnya. Lama dia memandang cowok yang berdiri di pintu
itu.
Begitu sosoknya menghilang dari pandangan, Erika
langsung tersadar. Matanya sampai berkedip-kedip, karena terlalu lama menatap
cowok tadi. Terdengar celotehan teman sekelas yang mengatakan kalau cowok
tercakep di sekolah ini baru saja muncul di kelasnya.
Tiba-tiba rasanya
dunia bergerak melambat. Aku melihatnya. Sosoknya dengan rambut cokelat terang
dan matanya yang hitam jernih.
Aku melihatnya. Dia
melihatku. Dia tersenyum. Lalu pergi.
***
Kelas 3-2 SMA Ayakashi. Terdengar bel istirahat berdering.
Yusuke sedang membereskan bukunya ketika seseorang memanggilnya.
“Yusuke,
temani aku ke kelas 1-2 ya.” baru saja dia berbahagia suka cita mendengar bel
istirahat, tiba-tiba terdengar suara ‘bel’ pertanda buruk. Yah, bukan pertanda
buruk yang sebenarnya sih. Itu cuma suara Ryu. Cowok yang dari lahir (mungkin)
sudah mengikuti Yusuke kemana saja.
“Ngapain kita ke kelas 1?”
“Bu Guru Yoshina minta tolong mengantarkan
surat ini untuk keponakannya.”
“Okelah. Aku juga sedang tidak ada kerjaan.”
Dan, disinilah mereka di depan kelas 1-2. Ryu
sudah bergerak masuk mencari keponakan Bu Guru Yoshina. Tidak lupa menebar
pesona seperti biasanya. Yah, sepertinya dia tidak ingin reputasinya sebagai
cowok tercakep di sekolah ini tercemar. Hehe.
Yusuke tidak ikut masuk. Dia lebih memilih
melihat saja dari pintu. Katanya dia malas berurusan dengan anak kelas 1 yang
sekilas bakal terlihat seperti anak SMP dan tidak ada bagus-bagusnya. Yusuke
bersandar di ambang pintu sambil memperhatikan sekeliling kelas.
Anak-anak kelas 1 itu
terlihat seperti remaja yang baru memasuki masa pubertasnya. Sepertinya Yusuke menyadari
posisinya sebagai senior sekolah. Hah,
aku jadi merasa seperti ayah yang bangga melihat anak-anaknya tumbuh dewasa.
Kemudian Yusuke tertegun karena melihat
pemandangan yang unik.
Anak itu posisinya
tampak sedang tidur, tapi matanya terbuka lebar. Lucu juga. Dari belakang,
teman-temannya pasti mengira dia sedang tidur. Yusuke tertawa dalam hati. Dia memperhatikan
kalau gadis itu sedang memegang hp dengan strap
berbentuk buah ceri. Mungkin dia sedang
menunggu telpon dari seseorang. Pikir Yusuke.
Ah, dia melihat ke
sini. Apa dia sedang melamun? Matanya tidak berkedip sama sekali. Tunggu dulu.
Sepertinya aku kenal. Wajahnya tidak asing.
“Yo,
Yusuke. Urusannya sudah selesai. Ayo ke kantin.” Ryu tiba-tiba muncul.
“Ah, bikin kaget aja. Ayo! Aku juga lapar
banget nih.”
***
Ada e-mail. Papa Erika bilang akan terlambat
sekitar 30 menit karena ada urusan sebentar. Erika yang sedang berjalan menuju
gerbang langsung berhenti.
“Eri-chan, kenapa?” gadis manis yang bertanya
ini namanya Noriko. Shino Noriko. Dia teman pertama yang dikenal Erika sewaktu
upacara penerimaan siswa baru tadi.
“Papaku bakal telat dikit. Aku harus menunggu.”
“Oh. Aku temani ya.” Noriko tersenyum manis
sekali.
“Eh, gak apa-apa nih?”
“Iya gak apa-apa.”
“Makasih ya.”
Kemudian
dua gadis itu menunggu di dekat gerbang sekolah. Erika sedang bersandar di
gerbang sekolah menunggu jemputan, ketika dia melihat cowok itu lagi. Erika
merasakan waktu di sekitarnya tidak lagi melambat. Tapi matanya masih tidak
bisa melepaskan pandangan dari cowok itu.
“Hei, hei. Eri-Chan.”
“Eh, iya Noriko-chan? Ada apa?” Kenapa aku kaget begini? Apa tadi aku
melamun?
“Kau suka sama cowok itu? Kok diliatin terus?”
“Gak kok.” Erika lalu tersenyum salah tingkah.
“Hahaha. Gak usah membantah. Satu sekolah juga
tahu kalau dia cowok paling cakep di sekolah ini. Aku juga suka lho.” Apa? Oh jadi dia cukup popular juga, ya. Kenapa
tadi aku tidak bilang iya saja. Cowok itu memang cakep.
“Kalau aku sudah suka dari SMP. Yah, bukan suka
beneran sih. Bisa dibilang aku ini penggemarnya.”
“Oh ya? Namanya siapa?”
“Oh, iya Eri-chan SMP nya beda ya. Pantas saja
tidak tahu. Namanya Ryu.” Ayakashi merupakan sekolah gabungan SMP dan SMA.
Noriko sudah sekolah disini sejak SMP.
“Haaah, Ryu-senpai. Namanya saja sudah keren.
Penampilannya juga. Lihat saja hidungnya yang mancung, rambutnya yang hitam,
matanya yang selalu pakai lensa kontak warna-warni, hari ini warnanya hijau
zamrud. Warna kesukaanku. Aku tahu soalnya tadi dia mampir ke kelas kita lho.
Eri-chan tadi tidur sih.”
Eh, tunggu dulu. Tadi
Noriko-chan bilang rambutnya hitam? Bukannya rambutnya warna cokelat? Cepat-cepat Erika melirik ke arah
cowok tadi. Ah, benar saja. Di samping si cowok berambut cokelat ini, ada satu
cowok lagi yang ciri-cirinya jelas menunjukkan kalau itulah si Ryu-senpai yang
dibicarakan Noriko. Berarti tadi yang
mampir di kelas ada dua orang? Aku kok gak ingat ya.
“Eh, Noriko-chan. Yang di sampingnya itu
siapa?”
“Mana? Yang pirang itu? Ah, itu Yusuke-senpai.
Mereka memang selalu sama-sama. Soalnya mereka teman dari kecil. Rumahnya juga
bertetangga.”
_piip piip_
Terdengar klakson mobil.
“Erika!” Terlihat juga Papa Erika yang
melambaikan tangan dari balik kaca jendela mobil.
“Ah, Noriko-chan aku duluan ya. Daah.”
“Daah, Eri-chan.”
Erika kemudian masuk ke mobil. Papanya terlihat
sedang menelepon seseorang.
Yusuke.
Erika mengulangi namanya dalam hati. Kemudian dia
tersenyum.
***
No comments:
Post a Comment